Diarsipkan di bawah: Poligami
Dalam hal wanita, ternyata sang Da’i Kondang nggak beda perilakunya ama pelaku poligami pada umumnya. Mereka sama – sama berlindung di balik “Islam” ( islam dalam tanda petik ).
Istri pertamanya tidak ikhlas. Itu terlihat jelas dalam wawancara di televisi. Demikian pula anak-anaknya. Mereka terpaksa ikhlas. Habis mau apa lagi.
Kasihan istrinya. Memang masih banyak wanita yang merasa wajib menerima apapun perlakuan suaminya.
Adalah jauh lebih baik bila sang Da’i Kondang secara gentle mengakui bahwa beliau terpaksa kawin lagi karena tidak bisa menahan nafsu cintanya terhadap wanita lain tersebut.
Ada yang bilang bahwa istri pertama Sang Da’i Kondang sedang menerima cobaan dari Allah, jadi memang harus sabar dan ikhlas. Padahal yang disebut “cobaan” itu bukan hanya urusan kesabaran saja, tapi bisa nggak dia pakai akal-pikirannya untuk keluar dari masalahnya atau pasrah saja diiming-imingi surga versi suaminya. Ya… sabar terus sampai tua.
Keikhlasan, kesabaran, kemampuan memaafkan memang jalan menuju surga. Maka ketabrak becak pun, bila ikhlas, juga bisa masuk surga.
Ada pula yang bilang bahwa sang Da’i Kondang menikah bukan karena hawa nafsu. Wah kalau sang Da’i Kondang menikah tanpa rasa cinta, lebih kacau lagi. Disebut apa orang yang berhubungan suami-istri tanpa rasa cinta ?
Sebetulnya sang Da’i Kondang, secara samar, sudah mengakui keterbatasannya dengan menyebut kawin laginya itu sebagai “emergency exit”. Artinya dia tak mampu membendung hasrat egonya dengan melukai hati anak dan istrinya.
“Jagalah hati, jangan kau nodai,” itu senandungnya. Sayangnya justru beliau sendiri tak mampu membendung hasrat hatinya hingga perlu “emergency exit”.
Al Qur’an memang tidak secara gamblang melarang poligami, tapi dalam Al Qur’an surah An Nisaa (4) : 129 dinyatakan : “ Kamu tidak akan dapat berlaku adil terhadap para istrimu, walau kamu sangat ingin berbuat demikian”. Sang Da’i Kondang harusnya tahu dan mampu menghayati ayat tersebut.
Harus dibedakan antara masalah poligami dengan kasus sang Da’i Kondang . Poligami boleh-boleh saja, asal memenuhi syarat. Masalahnya sang Da’i Kondang tidak memenuhi syarat. Anak dan istrinya tidak ikhlas.
Dalam wawancara di televisi, istri pertama sang Da’i Kondang selalu berujar, “Do’akan saya, agar bisa ikhlas,…do’akan saya agar mampu menjalani hidup bersama Aa”. Itu artinya dia dalam kondisi tidak ikhlas. Istri sang Da’i Kondang tidak ikhlas. Tapi terpaksa ikhlas.
Pada umumnya wanita yang mengizinkan suaminya kawin lagi (berpoligami), memiliki ciri-ciri : 1. Tidak paham sepenuhnya ajaran Islam, khususnya tentang hak-hak seorang istri (wanita). Bahwa seorang istri juga berhak menolak poligami. 2. Wanita yang tidak mandiri. Sangat tergantung pada sosok laki-laki.
Ciri-ciri no 2 tersebut nampak jelas pada diri istri pertama sang Da’i Kondang. Ini Wajar: anak banyak dan ketergantungan financial.
Orang sering bilang,”Daripada zina, lebih baik poligami.” Pertanyaannya : Mengapa poligami dibandingkan dengan zina yang jelas-jelas salah dan dosa ? Bandingkan donk poligami dengan monogami. Ini ibarat orang tua ditanya, mengapa pukul anaknya yang nakal, dan dia menjawab: “Daripada saya bunuh !”
Pengertian adil itu apa ? Sama rata, sama rasa, sama-sama ?
Kalau itu ukurannya, maka : nggak makan satu nggak makan semua, kelaparan satu kelaparan semua, itu sudah memenuhi kreteria adil. Tapi apakah rumah tangga macam ini membahagiakan.
Para pria pelaku poligami harusnya dapat lebih secara jujur mengakui bahwa ia jatuh cinta lagi, bahwa ia mencintai dirinya sendiri, bahwa kadar cinta kepada anak dan istri pertamanya memang sudah berkurang, hingga perlu hiburan lain.Ngaku gitu aja koq nggak mau.
Janganlah mengaku-ngaku karena Allah, sunnah rasul, ingin menolong, mengangkat derajat wanita. Kalau ingin menolong, ya tolong aja. Kenapa harus dikawini. Kalau mau angkat derajat wanita, ya angkat aja. Kenapa harus dikawini.
Dan tentang rasul dan para nabi, mereka tidak dapat dijadikan ukuran. Mereka adalah orang-orang yang terjaga hati dan perbuatannya. Dan mereka hidup di zaman dengan tatanan sosial budaya yang berdeda dengan kita sekarang.
Diperbolehkannya menikah sampai empat dalam Al Qur’an bertujuan pembatasan, karena pada masa Al Qur’an di turunkan masyarakat Arab hobby menikah sebanyak-banyaknya, hingga banyak istri dan anak-anak yang terlantar, nggak keurus.
Jadi bukannya yang sudah monogami dianjurkan berpoligami. Pernikahan ideal adalah monogami. Namun bila jatuh cinta lagi dan nggak bisa tahan diri, boleh nikah lagi asal izin anak-istri, anak istri ikhlas (tidak melukai hati mereka) dan… ADIL !
Tetapi patut direnungkan QS. An Nisaa (4) : 129 , yang menyatakan: “Kamu tidak akan dapat berlaku adil terhadap para istrimu, walau kamu sangat ingin berbuat demikian…”
Esensi ajaran Al Qur’an adalah : Idealnya rumah tangga itu monogami, kalau nggak bisa barulah poligami. Tapi yang sekarang dipropagandakan adalah yang ideal adalah poligami, dengan dasar pemikiran tidak semua orang bisa berlaku adil, arif bijaksana kepada para istrinya. Dan tidak semua istri dapat berlaku sabar dan tabah dipoligami. Maka disimpulkan bahwa orang yang sukses berpoligami adalah orang yang mulia, yang derajatnya tinggi di mata Allah. Sedangkan monogami adalah bentuk pernikahan standart, karena dianggap semua orang juga bisa bermonogami.
Memang dalam Al Qur’an tidak disebutkan bahwa berpoligami harus izin anak-istri. Juga tidak dipermasalahkan anak-istri ikhlas atau tidak. Tapi apakah islami nikah lagi tanpa izin anak-istri? Apakah islami menikah diam-diam? Apakah islami menikah lagi sementara anak-istri tidak ikhlas? Apakah islami memaksa anak-istri harus ikhlas ? Kalau tidak keberatan, biarlah hati nurani yang menjawab.
Biasanya (menurut survey yang asal-asalan), sekitar empat atau enam tahun kemudian barulah dapat tumbuh keikhlasan di hati anak-istri pertama. Karena sudah terbiasa. Terbiasa ditinggal, terbiasa kurang diperhatikan, dsb. Namun yang sedang kita bicarakan bukan nanti kapan-kapan, tapi sekarang !
Biasanya (menurut survey asal-asalan), sebelum berpoligami (dengan nikah resmi tentunya), seorang laki-laki akan berselingkuh lebih dahulu. Akankah dia ngomong pada istrinya kalau sedang tertarik pada wanita lain? Akankah dia izin pada istrinya kalau mau pacaran sama wanita lain? Lho, yang penting-kan tidak zina. Oh, berarti pacaran diam-diam (perselingkuhan psikologis) diperbolehkan dalam Islam ? Rasanya koq tidak ya?! Tanyakan lagi pada hati nurani.
Nah, biasanya, yang sering terjadi adalah nikah sirri dulu (poligami dulu), baru ngomong. Bahkan yang amat sangat sering terjadi : Ketahuan dulu, baru sibuk cari pembenaran lewat Al Qur’an.
Ok, sementara kita sibuk memperdebatkan poligami, sudahkah kita renungkan perasaan anak-anak yang mengetahui bapaknya kawin lagi?
—Sang Kelana, Pebruari 2007—
& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Ini blog pasti ga di set ke bahasa Indonesia ya?
Opini sebagus itu harusnya diketahui dunia.
Komentar oleh wadehel Desember 28, 2006 @ 2:21 pmane setuju 98% (meski ane pria)..
2% gak setuju saat ente bilang:
“Tidak paham sepenuhnya ajaran Islam, khususnya tentang hak-hak seorang istri”
nurut ane, ciri no 2 udah sangat OK kok..
(Subhanalloh..
mudah2an kita semua dilindungi Alloh dari segala kesalahan)
Meski ente udah memulainya dng ‘pada umumnya’, sekali lagi..nurut ane…”tidak paham ajaran Islam” sebaiknya ngga dicantumin.
Sangat riskan mengomentari hal yang di’halal’kan Alloh, dng “tidak paham ajaran Islam”.
Lagian ente “belum” nyantumin dalil “harus ikhlas” lho..:-)
Yang ada baru “harus adil”
Anyway, lepas dari 2% tadi..(sounds lebih ke emotional jadinya..)
ane setuju
cheers
Komentar oleh jackey Desember 28, 2006 @ 11:25 pmEm, Assalamu’alaikum wr wb dulu deh.
Aneh deh, saya itu bingung ada orang yang ngakunya paham banget sama agama, eh tiba2 ngobrolnya nentang agama juga.
Saya memang orang awam, tapi saya seorang planner. Gile bener, semua kota, desa dan wilayah yang saya survey tuh selalu nunjukin kalo jumlah cewek jauh lebih banyak (gak jauh2 amat sih) dengen jumlah cowok.
Misal perbandingan 1:2 aja, kalo dikali besarnya jumlah penduduk kota, jadinya kan waaaw.
Ok, kawasan kecil aja deh, 1:2 untuk 300 penduduk, jadi 100 cowok & 200 cewek.
Jika tetap berpanutan dengen 1:1 dalam konteks ’setia’ nya elo … berarti akan ada 100 orang cewek yang jadi ‘pengangguran’ dan gak ada yang ngelindungi tuh cewek2.
Pasti pada jual mahal biar bisa ‘laku’, jadinya pasti jual murah, pakean seksi, wong namanya marketing biar cepet laku, begimana nggak begitu.
Tapi banyak lho cewek yang dengen sangat terpaka harus nggak laku2 sampe umur kepala 4. Kalo sudah sepuh begitu, em .. saya nggak menghujat ato nyalahin pendapat elo2 pade, tapi realistis dong.
Menurut saya nih, kalo sudah wahyu dari langit, nggak bakal salah deh, pasti 100% sempurna, eh herannya org2 yang ngakunya ‘paham agama’ lebih percaya omongan einstein sikepala jabrik dari pada omongannya Nabi saw, bahkan ALLAH SWT tuhannya sekalipun.
Gile bener, lo paha, banget sama agama yah…! kalo aku sih emang orang awam, lulusan teknik, jadi mengenai urusan agama, sekalipun cara wudhu .. terpaksa tanya Ustadz atau Pak Kyai .. wong aku nggak ngerti sama sekali, sudah terlanjur jadi tukang insinyur mau begimana lagi.
OK deh, usulan gue, lo insyaf deh istighfar sebelum umur abis, eh belum sempat tobat lantaran 1 ayat qur’an yang elo ingkari. Usulan aja lho, boleh kan .. anak kuliahan juga kan, pasti pernah organisasi, jadi nerima dong kalo ada usulan ..
OK coy, kalo ada salah, maaf banget .. nmanya juga saling mengingatkan .. jadi thaks juga dengen tulisanmu, keren koq, tapi coba hati2 kalo nulis …
Wassalam wr wb
Komentar oleh Fadly April 21, 2007 @ 1:43 pmFadly
kalau mau bicara dengan islam harus argumentatif jangan asal bicara ini dan itu tanpa rujukan yang mendasar apalagi sampai seenaknya mengatakan bahwa poligami salah dan dosa…ilmu didapat dari mana itu coba??maaf nih kalau agak kasar cuman kalau nulis lihat2.wassalam
Komentar oleh taufiq November 18, 2007 @ 11:01 pmKomentar dari pria (yg bangga beristri satu):
Masih adakah cinta yg tulus bila sdh men’dua’kan cinta? Dari hati nurani saya, poligami hanya lah untuk memenuhi nafsu yg diusahakan untuk dilegalkan berdasarkan catatan sejarah agama.
Ujung-ujungnya untuk mempertahankan status quo dominasi pria thd wanita.
Saya tidak setuju poligami, tapi tdk menentang para pria yg memilih hidup berpoligami, soalnya itu sdh pilihan hidup pria yg setuju poligami, jadi itu adalah hak hidup mereka.
BTW: dari contoh-contoh poligami di media massa, rasaya tidak ada wanita yg cerdas, berwawasan (catatan: pendidikan S1 tak menjamin orang lebih berwawasan)dan berilmupengetahuan yg luas serta mandiri secara finansial, dpt dng gampang saja dipoligami.
Jadi pesan saya pada para gadis-gadis, perluaskan wawasan dan pengetahuaan anda, eksplorasi setinggi mungkin ilmu yg sebisa anda raih. Manfaatkan ilmu anda untuk mandiri..
Komentar oleh iful3d Februari 4, 2008 @ 1:11 pm..
..
yg akhirnya, anda akan mendapatkan pria dng cinta yg tulus nan sejati, berbagi rasa, cinta dan ilmu untuk membahas & menikmati ciptaan dari kebesaran Allah SWT yg tidak pernah habis-habisnya dibahas hingga akhir hayat kalian berdua.