Petualangan Spiritual bersama Sang Kelana


JILBAB
April 7, 2007, 2:27 pm
Filed under: Jilbab

burqa kartini

Pada masa sekarang ini masih banyak saudara-saudara kita yang mengira bahwa yang disebut busana muslim untuk wanita itu harus jilbab. Mereka masih berpikir bahwa jilbab adalah satu-satunya busana muslim. Berarti kalau tidak berjilbab, tidak berbusana muslim. Kalau tidak berbusana muslim, berarti berbusana ala kafir. Wah…? Mereka beranggapan bahwa mengenakan jilbab itu jauh lebih mulia daripada tidak berjilbab. Oleh karenanya yang tidak berjilbab dianggap kurang beriman.

Mereka membuat tingkatan-tingkatan dalam berbusana. Mulai dari telanjang bulat, berbikini, rok mini, baju panjang, berkerudung sampai berjilbab. Pokoknya semakin tertutup, semakin muslim. Memang sih, kalau telanjang bulat di muka umum atau berbikini di tengah pasar itu nggak benar.

Namun ternyata dalam memahami istilah “jilbab”pun, tiap orang punya pandangan yang berbeda. Ada yang merasa cukup berkerudung dengan bercelana jeans ketat. Ada yang berkerudung dengan baju longgar dan rok longgar. Ada yang seluruhnya baju longgar dari atas sampai bawah. Ada yang mulutnya harus ditutup. Ada pula, yang selain mulutnya ditutup, matanya juga ditutup dengan jaring-jaring (yang demikian, biasa disebut : burqa). Jadi faktanya, pemahaman akan jilbab pun tiap orang berbeda-beda.

Sebenarnya tidak salah meyakini bahwa dengan berjilbab seorang wanita akan mendapat ridha Allah dan bakal masuk Surga. Namun yang “berbahaya” adalah meyakini bahwa wanita yang tidak berjilbab pasti kurang muslim. Lebih berbahaya lagi bila ia meyakini bahwa wanita yang tidak berjilbab seperti standart dirinya (misal dengan mulut tertutup, mata tertutup jaring), akan mendapat azab Allah, masuk neraka dan disiksa malaikat.

Disebut “berbahaya” karena orang-orang yang berpikir sempit tersebut akan cenderung memvonis sesamanya yang tidak berjilbab itu sebagai golongan yang hidupnya tidak mendapat ridha Allah.

Sebagai contoh: Seorang wanita yang fanatik akan jilbabnya, akan cenderung merendahkan orang lain yang tidak berbusana seperti dirinya. Selama pikiran-pikiran tersebut masih tersimpan dibenaknya saja, mungkin tidak apa-apa. Paling-paling dia sendiri yang rugi. Ia akan menutup diri dan sangat membatasi pergaulannya. Namun potensial berbahaya, bila pikiran tersebut ia tebarkan di luar. Ia, tanpa sengaja, akan menebarkan benih kebencian dan permusuhan. Karena apa ? Ya,…karena ia akan bersikap merendahkan orang lain.

Mestinya ia sadar bahwa jilbab itu hanyalah salah satu cara untuk berbusana sopan dan untuk melindungi dirinya dari gangguan laki-laki.

Hai Nabi, katakanlah kepada para isterimu, para putrimu dan para wanita mukmin, hendaklah mereka memakai jilbab atas dirinya. Hal demikian itu supaya mereka mudah dikenal, maka mereka tidak diganggu. Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( QS. 33 : 59 )

Ya. Tujuan jilbab adalah seperti yang tertulis dalam Al Qur’an surah Al Ahzaab (33) ayat 59 di atas, yaitu mudah dikenali dan melindungi diri dari gangguan laki-laki. Namun kita sangat sibuk membahas “cara”, sampai lupa menghayati tujuannya. Hingga akhirnya kita sibuk menakut-nakuti orang yang tidak berjilbab, atau lebih parah lagi kita merendahkan orang yang tidak berjilbab sebagai calon penghuni neraka.

Marilah kita belajar saling menghormati. Yang tidak berjilbab, janganlah memperolok yang berjilbab sebagai orang yang sok suci. Sedangkan yang berjilbab janganlah memperolok mereka yang tidak berjilbab sebagai temannya setan.

Jilbab adalah salah satu solusi untuk wanita Arab pada zaman Nabi Muhammad SAW. Pada masa itu,sekitar abad 6 masehi, budaya perbudakan dan dominasi kaum pria masih subur di tanah Arab. Masa itu masyarakat Arab sedang dalam proses keluar dari zaman Jahiliyah. Wanita direndahkan, apalagi budak wanita. Kaum pria jauh lebih dominan dan cenderung seenaknya sendiri terhadap wanita.

Oleh karena itu Allah SWT memberikan perintah dan anjuran praktis sebagai solusi untuk kaum wanita pada masa itu. Tradisi timur tengah untuk status sosial wanita terhormat adalah busana kerudung yang menutup hampir seluruh anggota badan. Entah dia wanita Yahudi, Nasrani, Islam, maupun musyrik Qurais menutup tubuh dengan berkerudung merupakan lambang status wanita terhormat, berbeda dengan wanita budak yang cenderung berbusana serampangan dan serba terbuka.

Dengan demikian dapat dimengerti maksud anjuran Al Qur’an : “agar mudah dikenal dan tidak diganggu”. Walaupun kenyataannya sampai zaman modern sekarang ini, para Tenaga Kerja Wanita (TKW) kita, walaupun sudah berjilbab, masih sering digangu, jadi korban kekerasan, pelecehan seks termasuk pemerkosaan oleh laki-laki Arab di Timur Tengah sana.

Oleh karena itu, jilbab harus dipandang sebagai alternatif

Contoh yang lain adalah masalah “tabir” yang memisahkan ruang pandang dan bicara antara kaum pria dan wanita. Dan ini memang diterapkan oleh keluarga Nabi Muhammad SAW, sebagai suatu bentuk penghormatan kepada para istri beliau

Tapi bukan berarti bahwa pada masa sekarang ini, di Indonesia ini, kita bisa secara membabi-buta menerapkan metode tabir untuk semua aspek kontak sosial. Sebagai catatan : Dalam sebuah pertemuan formal, Haji Agus Salim pernah merobek tabir sebagai bentuk protes beliau terhadap adanya tabir dalam ruang pertemuan itu. Demikian halnya dengan bung Karno, mantan Presiden pertama RI, beliau pernah meninggalkan sebuah rapat umum, juga sebagai protes karena adanya tabir dalam pertemuan tersebut. Nah, adakah kita ragukan jiwa keislaman kedua tokoh nasional itu ?
Peristiwa Haji Agus Salim & Bung Karno tersebut, didokumentasikan oleh Bung Karno sendiri dalam buku beliau yang berjudul : “Di Bawah Bendera Revolusi” jilid 1; sub judul : “Tabir adalah Lambang Perbudakan.”

Nah, demikian halnya dengan jilbab. Jilbab tidak bisa dipandang sebagai “harga mati” untuk cara berbusana wanita. Di wilayah yang berbahaya, memang alangkah baiknya wanita berjilbab agar terlindung dari laki-laki bejat yang siap memangsanya. Bahkan kalau keluar rumah sebaiknya dikawal oleh laki-laki yang masih kerabatnya sebagai pelindung. Tapi untuk di wilayah yang aman dan beradab, wanita berhak memilih untuk pakai jilbab atau tidak. Menurut standart umum sudah sopan, ya sudah. Selain itu, keluar rumah tidak harus dikawal dan tidak dilarang menyetir mobil sendiri atau naik motor sendiri.

Ibu kita Kartini, putri sejati, putri Indonesia yang harum namanya tersebut akan masuk neraka karena tidak berjilbab? Cut Nyak Dhien,… kurang Islam gimana beliau itu. Akankah beliau juga masuk neraka karena kesehariannya tidak berjilbab ? demikian pula dengan Cut Meutia.

Kepada seorang kawan yang pernah berkata kepada saya bahwa wanita yang tidak berjilbab bakal masuk neraka, saya berucap Alhamdullilah dia tidak jadi Allah. Seandainya dia adalah Allah SWT, wah pasti kacau balau, Milyaran orang akan masuk neraka, karena tidak berjilbab.

Selanjutnya, saya mengajak Anda untuk merenung:

Mari kita renungkan peristiwa ini :
“Zill-e Huma, mentri kesejahteraan sosial Pakistan, tewas ditembak oleh anggota Islam fanatik pada 20 Pebruari 2007, hanya gara-gara beliau tidak pakai jilbab.”

Mari kita renungkan puisi ini :

Jangan Paksakan Jilbab kepadaku

Tidak cukupkah penghayatan syahadatku ?
Tidak cukupkah sholatku ?
Tidak cukupkah rutinitas puasaku ?
Kurang banyakkah zakatku ?
Tidak cukupkah aku yang telah bercita-cita naik haji ?

Aku bisa menghargaimu yang meyakini
bahwa jilbabmu akan mengantarkanmu ke Sorga
Namun, kalau bisa, tolong biarkan aku
meyakini bahwa busanaku
tak akan menjerumuskan aku ke Neraka

Aku toh tak bertelanjang
Aku juga tak berbusana minim
Lihatlah aku menutup dada, perut dan kakiku
Jangan paksa aku memakai busana tegak lurus
Yang akan menenggelamkan jati diriku

Biarkan aku berbusana sopan menurutku
Aku sudah berbudaya
Maka jangan paksakan budaya importmu kepadaku.

Sang Kelana
(Buat para wanita, yang terdesak, terancam dan tak punya hak untuk memilih busana)

Akhir kata :

“Kaum wanita berhak memilih untuk berjilbab ataupun tidak.”

—-Sang Kelana—-
26-3-2007



Poligami – bersama Sang Kelana
Desember 13, 2006, 3:26 pm
Filed under: Poligami

Dalam hal wanita, ternyata sang Da’i Kondang nggak beda perilakunya ama pelaku poligami pada umumnya. Mereka sama – sama berlindung di balik “Islam” ( islam dalam tanda petik ).

Istri pertamanya tidak ikhlas. Itu terlihat jelas dalam wawancara di televisi. Demikian pula anak-anaknya. Mereka terpaksa ikhlas. Habis mau apa lagi.

Kasihan istrinya. Memang masih banyak wanita yang merasa wajib menerima apapun perlakuan suaminya.

Adalah jauh lebih baik bila sang Da’i Kondang secara gentle mengakui bahwa beliau terpaksa kawin lagi karena tidak bisa menahan nafsu cintanya terhadap wanita lain tersebut.

Ada yang bilang bahwa istri pertama Sang Da’i Kondang sedang menerima cobaan dari Allah, jadi memang harus sabar dan ikhlas. Padahal yang disebut “cobaan” itu bukan hanya urusan kesabaran saja, tapi bisa nggak dia pakai akal-pikirannya untuk keluar dari masalahnya atau pasrah saja diiming-imingi surga versi suaminya. Ya… sabar terus sampai tua.

Keikhlasan, kesabaran, kemampuan memaafkan memang jalan menuju surga. Maka ketabrak becak pun, bila ikhlas, juga bisa masuk surga.

Ada pula yang bilang bahwa sang Da’i Kondang menikah bukan karena hawa nafsu. Wah kalau sang Da’i Kondang menikah tanpa rasa cinta, lebih kacau lagi. Disebut apa orang yang berhubungan suami-istri tanpa rasa cinta ?

Sebetulnya sang Da’i Kondang, secara samar, sudah mengakui keterbatasannya dengan menyebut kawin laginya itu sebagai “emergency exit”. Artinya dia tak mampu membendung hasrat egonya dengan melukai hati anak dan istrinya.

“Jagalah hati, jangan kau nodai,” itu senandungnya. Sayangnya justru beliau sendiri tak mampu membendung hasrat hatinya hingga perlu “emergency exit”.

Al Qur’an memang tidak secara gamblang melarang poligami, tapi dalam Al Qur’an surah An Nisaa (4) : 129 dinyatakan : “ Kamu tidak akan dapat berlaku adil terhadap para istrimu, walau kamu sangat ingin berbuat demikian”. Sang Da’i Kondang harusnya tahu dan mampu menghayati ayat tersebut.

Harus dibedakan antara masalah poligami dengan kasus sang Da’i Kondang . Poligami boleh-boleh saja, asal memenuhi syarat. Masalahnya sang Da’i Kondang tidak memenuhi syarat. Anak dan istrinya tidak ikhlas.

Dalam wawancara di televisi, istri pertama sang Da’i Kondang selalu berujar, “Do’akan saya, agar bisa ikhlas,…do’akan saya agar mampu menjalani hidup bersama Aa”. Itu artinya dia dalam kondisi tidak ikhlas. Istri sang Da’i Kondang tidak ikhlas. Tapi terpaksa ikhlas.

Pada umumnya wanita yang mengizinkan suaminya kawin lagi (berpoligami), memiliki ciri-ciri : 1. Tidak paham sepenuhnya ajaran Islam, khususnya tentang hak-hak seorang istri (wanita). Bahwa seorang istri juga berhak menolak poligami. 2. Wanita yang tidak mandiri. Sangat tergantung pada sosok laki-laki.
Ciri-ciri no 2 tersebut nampak jelas pada diri istri pertama sang Da’i Kondang. Ini Wajar: anak banyak dan ketergantungan financial.

Orang sering bilang,”Daripada zina, lebih baik poligami.” Pertanyaannya : Mengapa poligami dibandingkan dengan zina yang jelas-jelas salah dan dosa ? Bandingkan donk poligami dengan monogami. Ini ibarat orang tua ditanya, mengapa pukul anaknya yang nakal, dan dia menjawab: “Daripada saya bunuh !”

Pengertian adil itu apa ? Sama rata, sama rasa, sama-sama ?
Kalau itu ukurannya, maka : nggak makan satu nggak makan semua, kelaparan satu kelaparan semua, itu sudah memenuhi kreteria adil. Tapi apakah rumah tangga macam ini membahagiakan.

Para pria pelaku poligami harusnya dapat lebih secara jujur mengakui bahwa ia jatuh cinta lagi, bahwa ia mencintai dirinya sendiri, bahwa kadar cinta kepada anak dan istri pertamanya memang sudah berkurang, hingga perlu hiburan lain.Ngaku gitu aja koq nggak mau.

Janganlah mengaku-ngaku karena Allah, sunnah rasul, ingin menolong, mengangkat derajat wanita. Kalau ingin menolong, ya tolong aja. Kenapa harus dikawini. Kalau mau angkat derajat wanita, ya angkat aja. Kenapa harus dikawini.

Dan tentang rasul dan para nabi, mereka tidak dapat dijadikan ukuran. Mereka adalah orang-orang yang terjaga hati dan perbuatannya. Dan mereka hidup di zaman dengan tatanan sosial budaya yang berdeda dengan kita sekarang.

Diperbolehkannya menikah sampai empat dalam Al Qur’an bertujuan pembatasan, karena pada masa Al Qur’an di turunkan masyarakat Arab hobby menikah sebanyak-banyaknya, hingga banyak istri dan anak-anak yang terlantar, nggak keurus.

Jadi bukannya yang sudah monogami dianjurkan berpoligami. Pernikahan ideal adalah monogami. Namun bila jatuh cinta lagi dan nggak bisa tahan diri, boleh nikah lagi asal izin anak-istri, anak istri ikhlas (tidak melukai hati mereka) dan… ADIL !
Tetapi patut direnungkan QS. An Nisaa (4) : 129 , yang menyatakan: “Kamu tidak akan dapat berlaku adil terhadap para istrimu, walau kamu sangat ingin berbuat demikian…”

Esensi ajaran Al Qur’an adalah : Idealnya rumah tangga itu monogami, kalau nggak bisa barulah poligami. Tapi yang sekarang dipropagandakan adalah yang ideal adalah poligami, dengan dasar pemikiran tidak semua orang bisa berlaku adil, arif bijaksana kepada para istrinya. Dan tidak semua istri dapat berlaku sabar dan tabah dipoligami. Maka disimpulkan bahwa orang yang sukses berpoligami adalah orang yang mulia, yang derajatnya tinggi di mata Allah. Sedangkan monogami adalah bentuk pernikahan standart, karena dianggap semua orang juga bisa bermonogami.

Memang dalam Al Qur’an tidak disebutkan bahwa berpoligami harus izin anak-istri. Juga tidak dipermasalahkan anak-istri ikhlas atau tidak. Tapi apakah islami nikah lagi tanpa izin anak-istri? Apakah islami menikah diam-diam? Apakah islami menikah lagi sementara anak-istri tidak ikhlas? Apakah islami memaksa anak-istri harus ikhlas ? Kalau tidak keberatan, biarlah hati nurani yang menjawab.

Biasanya (menurut survey yang asal-asalan), sekitar empat atau enam tahun kemudian barulah dapat tumbuh keikhlasan di hati anak-istri pertama. Karena sudah terbiasa. Terbiasa ditinggal, terbiasa kurang diperhatikan, dsb. Namun yang sedang kita bicarakan bukan nanti kapan-kapan, tapi sekarang !

Biasanya (menurut survey asal-asalan), sebelum berpoligami (dengan nikah resmi tentunya), seorang laki-laki akan berselingkuh lebih dahulu. Akankah dia ngomong pada istrinya kalau sedang tertarik pada wanita lain? Akankah dia izin pada istrinya kalau mau pacaran sama wanita lain? Lho, yang penting-kan tidak zina. Oh, berarti pacaran diam-diam (perselingkuhan psikologis) diperbolehkan dalam Islam ? Rasanya koq tidak ya?! Tanyakan lagi pada hati nurani.
Nah, biasanya, yang sering terjadi adalah nikah sirri dulu (poligami dulu), baru ngomong. Bahkan yang amat sangat sering terjadi : Ketahuan dulu, baru sibuk cari pembenaran lewat Al Qur’an.

Ok, sementara kita sibuk memperdebatkan poligami, sudahkah kita renungkan perasaan anak-anak yang mengetahui bapaknya kawin lagi?

—Sang Kelana, Pebruari 2007—




Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.